Kalau dipikir-pikir, Bung Karno itu punya pengaruh yang
sangat kuat. Pidatonya membuat orang tak bisa orang beranjak pergi.
Kedatanganya di suatu tempat selalu disambut oleh massa yang menyemut.
Benar-benar pemimpin massa…
sangat kuat. Pidatonya membuat orang tak bisa orang beranjak pergi.
Kedatanganya di suatu tempat selalu disambut oleh massa yang menyemut.
Benar-benar pemimpin massa…
Soekarno, yang pernah jadi murid HOS Tjokroaminoto, sangat piawai
menggerakkan massa melalui pidato. Orang yang mendengar pidatonya,
sekalipun orang awam, akan sangat mudah menghirup kata-katanya.
menggerakkan massa melalui pidato. Orang yang mendengar pidatonya,
sekalipun orang awam, akan sangat mudah menghirup kata-katanya.
Sebagian kita tentu bertanya: teknik apa yang dipunyai Bung Karno
untuk mengumpulkan massa? Pada tahun 1958, pada sebuah kursus Pancasila
di Istana Negara, Bung Karno membuka sedikit rahasianya tentang cara
menggerakkan rakyat.
untuk mengumpulkan massa? Pada tahun 1958, pada sebuah kursus Pancasila
di Istana Negara, Bung Karno membuka sedikit rahasianya tentang cara
menggerakkan rakyat.
Bung Karno menyebut tiga cara membangkitkan kemauan rakyat.
Pertama, kita harus pintar menggambarkan atau melukiskan
cita-cita kepada massa rakyat. Seorang pemimpin yang tidak bisa
melukiskan cita-cita, kata Soekarno, tidak akan bisa membangkitkan
rakyat.
cita-cita kepada massa rakyat. Seorang pemimpin yang tidak bisa
melukiskan cita-cita, kata Soekarno, tidak akan bisa membangkitkan
rakyat.
Bung Karno pun memberi contoh. Dengan menoleh kepada sejarah, ia
tunjukkan sejumlah pemimpin yang sangat pandai melukiskan cita-cita. Ia
pun merujuk kisah perjuangan para nabi. Ia contohkan pengalaman Nabi
Muhammad SAW dan Nabi Isa AS dalam menyiarkan kebenaran agama.
tunjukkan sejumlah pemimpin yang sangat pandai melukiskan cita-cita. Ia
pun merujuk kisah perjuangan para nabi. Ia contohkan pengalaman Nabi
Muhammad SAW dan Nabi Isa AS dalam menyiarkan kebenaran agama.
Lalu, dia ambil pula contoh dari sejarah perjuangan dunia. Karl Marx,
kata dia, sangat pandai melukiskan cita-citanya, yaitu masyarakat tanpa
klas. Bahkan, dalam karya-karyanya, Marx membentangkan jalan mencapai
cita-cita itu.
kata dia, sangat pandai melukiskan cita-citanya, yaitu masyarakat tanpa
klas. Bahkan, dalam karya-karyanya, Marx membentangkan jalan mencapai
cita-cita itu.
Tetapi Bung Karno memberi catatan: jangan mengiming-iming barang (sesuatu) yang bohong!
Kedua, kita harus memberi atau membangkitkan rasa mampu di
kalangan rakyat. Ini sangat perlu, sebab iming-iming saja tidak cukup
membuat orang bergerak. Karena itu, bagi Soekarno, perlu juga
membangkitkan kehendak atau kemauan rakyat.
kalangan rakyat. Ini sangat perlu, sebab iming-iming saja tidak cukup
membuat orang bergerak. Karena itu, bagi Soekarno, perlu juga
membangkitkan kehendak atau kemauan rakyat.
Ia mencontohkan sederhana: “ibaratnya engkau mengiming-imingi seorang
yang berbadan lemah. Lihat itu, di puncak pohong itu ada buah merah,
paling enak. Si dahaga kepingin buah itu, tetapi ia merasa lemah. Dus,
kepingin saja, tetapi tidak punya kehendak, kemauan, will, untuk mencapai buah itu.”
yang berbadan lemah. Lihat itu, di puncak pohong itu ada buah merah,
paling enak. Si dahaga kepingin buah itu, tetapi ia merasa lemah. Dus,
kepingin saja, tetapi tidak punya kehendak, kemauan, will, untuk mencapai buah itu.”
Ketiga, setelah memberi rasa mampu kepada rakyat itu, maka
tiba saatnya untuk memberi rakyat itu “de werkelijke kracht”—kekuatan
yang sesungguhnya: organisasi.
tiba saatnya untuk memberi rakyat itu “de werkelijke kracht”—kekuatan
yang sesungguhnya: organisasi.
Jadi, selepas menunaikan tugas membangkitkan kemauan, maka tugas selanjutnyanya adalah mengorganisasikan rakyat itu.
Ini ibarat memberi kekuatan kepada massa itu. Sebab, di mata
Soekarno, jika massa itu masih tercerai-berai, belum terorganisasikan,
maka kekuatannya pun belum ada. Kekuatan massa itu ada di organisasi.
Soekarno, jika massa itu masih tercerai-berai, belum terorganisasikan,
maka kekuatannya pun belum ada. Kekuatan massa itu ada di organisasi.
Itulah tiga cara menggerakkan massa kata Bung Karno. Tetapi, ada
catatan: Cara itu sangat melekat pada pengalaman Bung Karno. Artinya,
jika berbicara pengalaman, kita harus mengenal pula konteks situasi saat
itu.
catatan: Cara itu sangat melekat pada pengalaman Bung Karno. Artinya,
jika berbicara pengalaman, kita harus mengenal pula konteks situasi saat
itu.
Bung Karno di berada di tengah masyarakat jajahan yang musuhnya
sangat jelas: penjajah Belanda. Sedangkan kita, di tengah masyarakat
yang dijajah dengan ‘gaya baru’ oleh imperialisme, tetapi penjelasan
mengenai “kebaruan gaya penjajahan” itu terkadang masih abstrak.
sangat jelas: penjajah Belanda. Sedangkan kita, di tengah masyarakat
yang dijajah dengan ‘gaya baru’ oleh imperialisme, tetapi penjelasan
mengenai “kebaruan gaya penjajahan” itu terkadang masih abstrak.
Tapi, sebetulnya, kalau kita mau jujur, ada satu hal yang dimiliki
Bung Karno yang terkadang kita tidak punyai: kemampuannya membaca
psikologi massa rakyat Indonesia. Sehingga, karena itu, ia bisa bisa
memilih kata dan cara pengungkapan yang tepat, mudah dipahami, dan
membangkitkan perasaan rakyat yang terdalam. Ia faham penderitaan rakyat
yang paling dalam.
Bung Karno yang terkadang kita tidak punyai: kemampuannya membaca
psikologi massa rakyat Indonesia. Sehingga, karena itu, ia bisa bisa
memilih kata dan cara pengungkapan yang tepat, mudah dipahami, dan
membangkitkan perasaan rakyat yang terdalam. Ia faham penderitaan rakyat
yang paling dalam.
Ya, Soekarno seorang penyambung lidah rakyat…
Komentar
Posting Komentar