Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

SAHABAT SEUTUHNYA,, SIAPA?

Siapakah yang pantas disebut sahabat dan saudara? Dari ust. Agus Hendra Gunawan Yang mengajakmu makan malam di cafe? Yang membeli tiket untuk nonton bareng? Yang nangis bareng ketika nonton konser? Yang selalu berada disebelahmu ketika foto narsis Yang mengirimkan sms: "jangan lupa mamam tiang eeaa.." Yang mengunjungimu ketika dalam keadaan bete dan bosan? Baiklah... Mungkin itu adalah sahabat versi terbaik kita... Namun dalam Al-Quran ALLAH ﷻ menjelaskan, manusia yang pantas disebut sahabat dan saudara adalah: "Yang membantumu dalam kebaikan dan menasehatimu dalam keburukan serta bersabar didalamnya ...." Maka ... hitunglah baik baik ... ߒsiapa yang mengajak kita sholat berjamaah, ߒsiapa yang memberikan contoh kita melakukan kebaikan, ߒsiapa yang menasehati jika kita berbuat salah, ߒsiapa yang menjawab kegalauan kita, ߒՠsiapa yang mencegah kita berbuat maksiat, ߒsiapa yang marah bila kita berkhalwat atau sekedar ikhtilat. Bila ternyata tidak ...

SEDANG MERINDU,,

Malam di penuhi tumpukan duka,,, sungguh hati ini sedang merindu sosok seorang motivasi ketika jatuh, penyemangat ketika gundah, penegar ketika diri ini rapuh,,,, sungguh rindu ini sangat menyiksaku,, slalu tertatih bathin meminta agar Allah SWT slalu curahkan kesehatan kesuksesan ketegaran kekuatan kepada kakak ku yang jauh dari mata,, semoga di perantauan mencari ilmu yang sedang kakak hadapi,, kesulitan dapat terlewati, kegundahan dapat teratasi, do'a ini akan trus mengalir buat mu kak,,,,, jaga kesehatan, tingkatkan pengetahuan, ku ingin melihat toga melapisi tubuh mu sebelum ku merasakan itu kak,,, marahku kadang menggores hatimu, tawaku kadang melukai parasmu, sayangku mungkin melebihi yang kau tau,,, maafkan akuu kak,,,, sakit ku ini membuat ku sadar betapa penting aku harus trus ingatkan mu menjaga kesehatan, aku takut sakit itu menghampirimu kak,, aku sayang kakak,,,, sangat sayang,,,, jaga kakak ku ya Allah,,, Allahumma amin,,, {ka"Q,, WPW} FAUZA Q.PW., ALUM...

BERGERAK BUANG KEMALASAN

Hai , malas yang mengungkungku Kuingin menghancurkanmu Karena kau telah menelan masaku Hai, malas yang selalu lekat menyelinggkup tubuhku Pada tiap sisi ruang dan waktu Bodohnya aku tak kuasa menepis keangkuhanmu Meski telah kuupayakan Tak bertegur sama denganmu Kau terus saja menggapai-gapai menarikku Setiap langkah yang terarah melawanmu Magnet kemalasan pasang kuda-kuda menjeratku Kurasa kantuk, berkeringat, pusing dan pegal Menyeretku kepembaringan….. Melenakanku dalam mimpi kesiangan Oh……. Kemalasan enyahlah….. Aku tak hendak kehabisan….. Waktu berhargaku FAUZA.Q.PW, ALUMNI 22 AR0RAUDLATUL HASANAH

MAJU CIPTAKAN SEMANGAT

Hatiku begitu menggebu Setiap kudengar tausiyah suci itu Rangkai katanya merona hatiku Alur ritmiknya memerah telingaku Jiwaku menggebu haru bertalu Setiap derap pergerakan dihentakkan Menyentak rasa lengang sanubari Menggetar senyap keterlenaanku Wahai geloraku, jangan tenggelamkan Rasa cintaku pada perjuangan ini Hanya karena tak bertemu sang guru Yang selalu mengetuk pintu hatimu Sematkan dalam ingatanmu, Pandangan optimis penuh harapan Seperti menatap indahnya langit biru Penuh cahaya, menghangatkan hati Agar kusambut langkah perjuangan itu, Bersama kalam dan sabda yang tlah terpatri Buktikan rasa peduli, simbol pemberani Agar sinarnya terangi persada ini Jadilah bunga yang harum di persada ini Yang menebar wangi, pesona alami Bangkit dan melangkahlah dengan pasti Peradaban di negeri ini harus tegak berdiri FAUZA QADRIAH PW, ALUMNI 22 AR-RAUDLATUL HASANAH

PUISI NURANI JIWA

Mungkin hanya laut yang mengerti Kapan langit akan menangis... Atau mungkin hanya buih yang tahu Kapan mendung berganti warna.. Saat ombak melahirkan darah di bibir karang Selarut ini aku tuliskan sebait pesan buatmu Aku lampirkan penggalan mimpi untuk menyapamu Dalam diam...dalam dendam...dalam ketiadaan... Terpagut mata memandang perih Diujung samudera, panggilan hati membawamu pergi Kala hatimu tersayat belati Aku hanya mampu merintih Adakah mereka miliki segumpal nurani? Setetes darah dengan sebuah kerinduan Yang mampu mengeja gambar keangkuhan tanpa makna Semacam doa tanpa harapan Dan sebuah kerinduan yang kering terbakar Kau masih menanti diujung samudera Bertanya pada ombak… Adakah nurani bersinggah menepi? Oh…Palestina… Tragedi tanpa kesudahanmu Meluluh lantakkan qolbu Ingin kurajut perihmu dengan jamahku Obati lukamu dengan jiwa… Agar kalut tak dapat meraja kembali dalam sepi Oh…Palestina Bumi Isa yang ternoda Kala serdadu zionis gagah diujung ...

PUISI HIDUP PENUH RINTANGAN

Sulit aku melupakan beribu pasang mata birumu Bingungku, lantas berkabung… Kala senja ingin pergi tinggalkan hari Kau masih saja berdiri Menanti aroma syurgawi Menghampirimu... Sua tiada habis diselaksa pandang Menatap tingkah laku iblis dunia yang menghadang Intifadhoh akan tetap meradang Kala jiwamu terus di hujam Bingungku,lantas bertandang… Aku hanya mampu berkumandang Serukan keadilanmu yang dikekang Jihad menjadi besi sendi Sabar menjadi pilar tegar Tawakkal menjadi dinding hati Kau adalah jiwa haus Yang tidak dapat istirahat Kecuali dalam pangkuan keterjagaan Kehidupanmu di atas bumi Merupakan satu rangkaian panjang Dari perbuatan perbuatan besar Yang ingin kuraih, namun hanya mimpi kala rayuan syaitan kerap menghampiri Predikat syahid jelas tersandang Hakikat mati tak mematikan hati Jiwamu kan selalu bertandang Dalam sanubari yang merindu makna dan arti Aku hanya mampu menitip salam kasih Pada angin kasturi bumimu… Pada awan syurgawi dihatimu ...

PUISI SANG MURABBI

Allah, Ya Rabbi... Dengan segala kuasa dan kemaha besaran-Mu Ku tengadahkan tangan bertumpu malu Kala hati hanya berdusta Terombang ambing dengan nafsu sia Di keheningan malam Waktu yang sepantasnya kupergunakan Merajut cinta-Mu Allah, Ya Rabbi... Adakah hati dan lidah ini selalu berujar Berkilah dan mengumbar ayat-ayat-Mu yang berpijar Terangi hati mereka yang sadar Obati jiwa mereka yang pudar Namun, hanya akulah yang kurang ajar Memaknai setiap dalil yang erat mengakar Dengan potongan-potongan ayat samar Lantas ku jadikan alasan untuk menutupi hidayah-Mu Allah, Ya Rabbi... Kegundahan hati ini lama berlumut Terkatup dibalik dinding-dinding usia yang larut Dalam jurang nista Adakah pertolongan yang siap menghampiri Sedangkan aku hanya berdiam diri Dan enggan berlari menjemput kasih-Mu Pantaskah aku menerima Dengan kealpaan diri. Kini hanya diamlah yang menjadi saksi bisu Hanya jejaring malam yang setia menunggu Kala simpuhku dihadapan-Mu Menjadi bukti k...

IKRH IAIN 2014

Dalam telimpuh sujud ku sisipkan sebuah harapan pada-Mu Ku titip hati yang selalu cemburu Pada nurani diujung senja lamatku memandang sepotong jiwa yang bertandang ketika mata dan telinga tak sanggup meraba hanya keluh kesah meranum dibibir nista Duh, senja.. Mengapa ku terpaut cintamu? Aku linglung mencari sebuah makna yang terselip disana menanti sebuah jawaban dalam rengkuhan doa sembari ku resapi setiap langkah di tepian pantai, ku mengadu resah mendayung hati yang terombang ambing tuk menepi di semenanjung cinta-Nya Untuk kesekiannya ku merangkai kata melukis sepetak hati yang terkotak ambisi dan nafsu sedarkan kembali pikiranku yang rancu Pada-Nya ku rajut sejuta rindu Lama kusesali duri yang sempat menusuk untuk kesekian kali pula ku selalu terpuruk dengan kelemahan yang kerap mengusik dinding semesta nurani dengan lelucon hati, kadang patuh dan kadang lumpuh Sungguh, kuingin mengakhiri pentas drama ini Memohon pada-Nya pelita hati Allahumma... Engk...

Renungkanlah

Saudaraku! . Saat ini ada banyak pertanyaan yang sedang menggandrungi pikiran dan jiwaku. Pertanyaan yang bersumber dari refleksi objektifitas dalam memaknai pentas kehidupan ini. Apa yang kini mengganjal dan ingin rasanya mengungkapkan gejolak dihati. Saat dimana hening menjadi kerinduan dikala hiruk pikuk menjalani aktifitas hidup bertambah rumit dan sukar untuk dielakkan. Keberanianlah yang kerap dituntut menapaki terjalnya jalan. Realita hidup telah menampakkan posisi diri yang hanya mampu meratapi nasib. Bagaikan perlombaan yang tiada henti, hidup seakan menjadi panorama menyesakkan dikala bekal yang dibawa tak mencukupi. Maka tiada lagi waktu untuk mengulangi kesemuanya dan pastinya hanya kenangan semata. Penyesalan tiada habisnya menghiasi bibir yang tak mampu berzikir mengingat-Nya. Ya, hanya keluh kesah yang terlontar, namun tidak tahu kemana dan kepada siapakah harus diadukan. Itulah realita sekarang, dan kini terjadi! Lari dari jalur, mencari ja...

Renungkanlah

Saudaraku! . Saat ini ada banyak pertanyaan yang sedang menggandrungi pikiran dan jiwaku. Pertanyaan yang bersumber dari refleksi objektifitas dalam memaknai pentas kehidupan ini. Apa yang kini mengganjal dan ingin rasanya mengungkapkan gejolak dihati. Saat dimana hening menjadi kerinduan dikala hiruk pikuk menjalani aktifitas hidup bertambah rumit dan sukar untuk dielakkan. Keberanianlah yang kerap dituntut menapaki terjalnya jalan. Realita hidup telah menampakkan posisi diri yang hanya mampu meratapi nasib. Bagaikan perlombaan yang tiada henti, hidup seakan menjadi panorama menyesakkan dikala bekal yang dibawa tak mencukupi. Maka tiada lagi waktu untuk mengulangi kesemuanya dan pastinya hanya kenangan semata. Penyesalan tiada habisnya menghiasi bibir yang tak mampu berzikir mengingat-Nya. Ya, hanya keluh kesah yang terlontar, namun tidak tahu kemana dan kepada siapakah harus diadukan. Itulah realita sekarang, dan kini terjadi! Lari dari jalur, mencari ja...