Langsung ke konten utama

IKRH IAIN 2014

Dalam telimpuh sujud
ku sisipkan sebuah harapan pada-Mu
Ku titip hati yang selalu cemburu
Pada nurani diujung senja
lamatku memandang sepotong jiwa yang bertandang
ketika mata dan telinga tak sanggup meraba
hanya keluh kesah meranum dibibir nista

Duh, senja..
Mengapa ku terpaut cintamu?
Aku linglung mencari sebuah makna yang terselip disana
menanti sebuah jawaban dalam rengkuhan doa
sembari ku resapi setiap langkah
di tepian pantai, ku mengadu resah
mendayung hati yang terombang ambing
tuk menepi di semenanjung cinta-Nya

Untuk kesekiannya ku merangkai kata
melukis sepetak hati yang terkotak ambisi dan nafsu
sedarkan kembali pikiranku yang rancu
Pada-Nya ku rajut sejuta rindu

Lama kusesali duri yang sempat menusuk
untuk kesekian kali pula ku selalu terpuruk
dengan kelemahan yang kerap mengusik dinding semesta nurani
dengan lelucon hati, kadang patuh dan kadang lumpuh
Sungguh, kuingin mengakhiri pentas drama ini
Memohon pada-Nya pelita hati

Allahumma...
Engkaulah Tuhan
Sang Khaliq Alam Semesta
'Bagiku itu sudah cukup
untuk sujud dan menyembah pada-Mu
di Padang Senja memahat cinta-Mu'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI NURANI JIWA

Mungkin hanya laut yang mengerti Kapan langit akan menangis... Atau mungkin hanya buih yang tahu Kapan mendung berganti warna.. Saat ombak melahirkan darah di bibir karang Selarut ini aku tuliskan sebait pesan buatmu Aku lampirkan penggalan mimpi untuk menyapamu Dalam diam...dalam dendam...dalam ketiadaan... Terpagut mata memandang perih Diujung samudera, panggilan hati membawamu pergi Kala hatimu tersayat belati Aku hanya mampu merintih Adakah mereka miliki segumpal nurani? Setetes darah dengan sebuah kerinduan Yang mampu mengeja gambar keangkuhan tanpa makna Semacam doa tanpa harapan Dan sebuah kerinduan yang kering terbakar Kau masih menanti diujung samudera Bertanya pada ombak… Adakah nurani bersinggah menepi? Oh…Palestina… Tragedi tanpa kesudahanmu Meluluh lantakkan qolbu Ingin kurajut perihmu dengan jamahku Obati lukamu dengan jiwa… Agar kalut tak dapat meraja kembali dalam sepi Oh…Palestina Bumi Isa yang ternoda Kala serdadu zionis gagah diujung ...

Malaysia sudut peradaban...

Dahulu terkenang satu cita yang seakan tak terealisasikan di sudut khayalan...  namun... kembali terketuk satu kalimat yang seakan melayang2 di antara telinga dan alam bawah sadar... "Ada masa dimana Allah akan berikan yang kita butuhkan" Allaahu Akbar.... kuyakini, setiap titik kebahagiaan dan kesuksesan ini terselip doa ikhlas seorang Ayah... umi.... yang selalu mendoakan keberkahan, kebahagiaan, kesuksesan untuk putra putri nya.... . . Allaahu jalla jalaaluh... terkadang sedikit rumit bagi hamba terus mengingat kebaikan dan melupakan kesalahan... ketukan terindah menuju arah yang lebih indah..itu lah yang kami harapkan ya Rabb... syukur atas nikmat.... bahagia atas tiada penat.. dan sedih dilapisi bahagia.. hanya mampu mendoakan kesehatan buat ayah dan umi... semoga cinta dan kasih sayang mereka mendapat balasan cinta fan kasih sayang yang lebih dari Mu ya Allaah.... . . Malaysia, 20 oktober 2015

Sampaikan walau sedikit ilmu

Sedikit kucoba menceritakan penggalan nasihat Arab yang hingga saat ini sangat kunikmati khasiatnya... "Obatilah marah dengan diam" Kalimat sakral lagi singkat ini menentramkan segala bala dan emosi membara saat beberapa pihak mengecam untuk melanjutkan kemarahan nya.. Syukurku telah dibekali ilmu bermanfaat oleh ustadzah nashratussyaifa yang saat duduk dikelas 1G di pesantren ia terus menjelaskan definisi dan contoh dari seluruh mahfudzot atau pantun Arab itu..  Kerap kutemukan orang marah.. Emosi membara.. Obatilah marah itu dengan diam.. Sebab tidak semua pertanyaan da jawabannya... Tidak semua lapar makan nasi obatnya.. Tapi diam lah obat jitu menenangkan kawan yang sedang dalam keadaan marah... Semoga bermanfaat... #bersambung #mariberbagi