Oleh : Fauza Qadriah-Fasyh Uinsu-VII- Mu’amalah
Sapaan hangat bagi
seluruh jiwa gagah nan berani, mencoba meyongsong tiap-tiap hari demi
kemaslahatan ummat, bangsa juga Negeri ini, setiap aktivitas menjadi moment
penting dalam seluruh perubahan, peradaban bahkan pergerakan. adakalanya diam
kita menjadi emas, adakalanya diam kita menjadi pesetujuan pergerakan, namun
mari benah segala aktivitas, robohkan kemunafikan, tingkatkan keyakinan
pertajam keilmuan. sebab kini, zaman
dimana mahasiswa menjadi seorang nahkoda penggerak seluruh dimensi yang ada.
Tidak hanya pada satu dimensi, melainkan seluruh dimensi tanpa terkecuali.Coba kita simak
perlahan nasihat Ir. Soekarno "Tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan
kebohongan elit atas, hanya bangsanya sendiri yang mampu merubah nasib
negerinya sendiri." Ekonomi adalah asset terpenting yang harus dikelola
seluruh elemen mahasiswa, tidak hanya pada tataran UKM, perusahaan serta
seluruh kekayaan bumi serta migas juga harus menjadi perhatian khusus seluruh
mahasiswa, lagi-lagi persoalan siap atau tidak. Tidak dipandang hanya pada
sudut perekonomian, sudut pendidikan pun prioritas ummat yang harus dibenahi,
mulai dari pelajar sampai kepada pengajar keseluruhan elemen yang ada harus
menjadi tolak ukur baik mewujudkan Negara beradab, hebat serta bermartabat. Bergerak
atau diam, kita diam bukan karna takut, berbicara bukan karna hanya punya mulut
tapi kesemua aktifitas itu terjadi karna naluri kemanusiaan yang
menggerakkannya, bathin ikut memberi masukan, tenaga siap berjuang. Lantas
apakah kita masih tetap DIAM..?? saat semua perubah berdiam diri di tempat
sunyi nan sepi, lantas harus perubah mana yang mampu merubah segala dimensi
yang semakin lama semakin rapuh ini..??Sejak ruh dititipkan
dalam jiwa kosong kita, ruh masuk bersamaan dengan ditiupkannya harapan dalam
nyawa dalam setiap tetes darah yang mulai mengalir. Dia (harapan) ikut mengalir
kesetiap tikungan jasad dan saraf mengeluarkan energi yang pada akhirnya
menggerakkan jasad sesuai dengan perintah yang dikeluarkan tiap otak
pemiliknya. Allah SWT titipkan segala problematika ke benak-benak sang perubah.
Saatnya berbenah, merubah dan perbaharuan dimulai.Sederhananya-harapan
yang membuat kita hidup. Harapan akan apa? Bagaimana-jika harapan untuk
kehidupan yang lebih baik? Membuat seakan hidup kita di-detik ini kurang
baik? atau harapan mendapatkan kebahagian yang kekal?
Memastikan hidup ini tidak dipenuhi kebahagian terus! atau harapan
akan hidup lama memastikan diri ini tidak akan mampu hidup
tanpa Sang Pemberi Harapan! atau harapan agar diri ini mampu
memberi kebermanfaatan bagi manusia lainnya seperti diri ini? Itulah Harapan
yang tak henti-henti dipertanyakan setiap insan.Berhenti bertanya.
Harapan datang dan pergi (pasti) diatur oleh-Nya. Tuhan Sang Pemilik Harapan
dan hanya kembali kepadanya seluruh harapan kita terpusat. Harapan itu seperti
sesuatu yang kita percayai dan kita ingin kuasai dari hasil sesuatu yang kita
percayai itu. Wikipedia mendefenisikannya
sebagai bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan
didapatkan. Tak hanya berdiam saat mengembalikan nya kepada sang pemilik
Harapan, usaha serta permohonan menjadi penyemangat seluruh harapan
dinisbatkan.Jika kita pusatkan
diri sebagai subjek. Ada dua kemungkinan posisinya. Kita sebagai sesuatu yang
diharapkan atau kita mengharapkan sesuatu. Take and Give. Terima
dan Kasih. Dikedua dimensi nya setiap kita dibenarkan memilih jalan, saat
memberikan ‘ibroh baik bagi
kehidupan.Kini, mari
berbincang mengenai harapan. Semoga memberi manfaat.Lagi-lagi nasihat
sang proklamator itu menjadi pusat semangat bergerak, berubah juga penyeimbang,
yang sejatinya kini saatnya seluruh pemuda mencoba mengamini segala kehendak
positive yang harus diterjal, seluruh cita anak bangsa yang harus terwujud. "Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih
hidup dimasa pancaroba. Jadi tetaplah bersemangat elang rajawali." Begitu
nasihat singkat yang sedikit menampar hati seorang penggerak Indonesia, saat
ini, dimana semua mata menghadap ke bangsa, setiap elemen di pelantara dunia
bertanya, ada apa dengan Indonesia? Apa yang sedang terjadi disana? Lantas
pertanyaan itu akan mudah dijawan Saat seluruh mahasiswa satu asa juga satu
tujuan maka, kita mampu dan pasti sangat mampu menjawab, ini zamannya Kami
tembus harapan yang kemarin hanya mimpi dan kini kujadikan ia harapan
tertinggi.Bersama membawa perubahan, bersama memajukan kebaikan, saat
yang sama dimana aktivitas baik itu terdeklarasikan, maka setiap insan akan
berbondong menuai sejuta hasil keindahan. Lemah bisa diatasi dengan bersama
menyelesaikan, namun Apakah kelemahan kita adalah kurang percaya diri sebaga
bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri dan kurang
mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah rakyat gotong
royong.Saatnya gerakkan perubaan galangkan nawa cita yang harus
terwujudkan karna "Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak
akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu
diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi
merdeka, daripada makan bestik tapi budak." [Bung Karno, Pidato HUT
Proklamasi]Tetap bersyukur pada jalan yang pasti, tetap bergerak pada
dimensi ilahi sebab seluruh nya akan terkesan tiada daya juga upaya saat semua
kita meratap pada titip tak pasti dan nikmati keindahan setelah semua
dilakukan. "Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi
tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita
selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat."
[Ir. Soekarno, Pidato HUT Proklamasi].Konon diam menjadi alasan jitu setiap penggerak saat lengah
dalam bertindak, namun kini, zamannya pergerakan keilmuan, kekokohan
kebhinnekaan, kekuatan kesatuanlah menjadi tolak ukur terbinanya bangsa
militan, bangsa beradab, bangsa bermartabat.Terdengar detakan jantung pejuang mulai berdetag kencang
mewujudkan asa serta harapan terbesar untuk dunia, susunan strategi handal
seorang pejuang menggoncangkan dunia, ketakutan hanya sebuah ilusinasi yang
semua kita mampu menepisnya, dorongan semangat merkuat negeri menuju negeri
hebat, beradab serta bermartabat sebuah terjal yang harus dilalui semua kita,
sampaikan asa, wujudkan cita, ada jalan melalui setiap luka, ada kebahagiaan
setelah cercaan menghadang. Tanpa mengenal usia, mari coba arungi seluruh
lentera agar terwujud tentram bersahaja.Indonesia, 05 November 2016
Komentar
Posting Komentar